Koltim Panen Sawah Digital Farming Pertama di Sultra

  • Bagikan
Koltim Panen Sawah Digital Farming Pertama di Sultra

GATENEWS-KOLTIM:- Pemerintah Kabupaten Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara melakukan panen demplot padi sawah sistem digital farming di Desa Mendoke, Kecamatan Lambandia. Sejumlah jajaran Pemerintah Provinsi Sultra juga nampak hadir di kegiatan panen tersebut.

Plt Bupati Koltim, Andi Merya Nur beserta OPD, ketua TP-PKK Koltim, camat Lambandia, ketua komisi 2 DPRD Sultra, sekdis tanaman pangan dan peternakan Sultra, BPTP Sultra, kepala BPSB Sultra memanen padi hasil sistem digital farming di Desa Mendoke pada Senin (24/5/2021).

Ads

Andi Merya Nur mengatakan, pihaknya bersyukur dan mengapresiasi petani Koltim atas kontribusinya dalam upaya peningkatan produksi dan produktivitas pertanian di wilayah setempat.

Peningkatan produksi tanaman pangan, kata Plt Bupati Koltim, memiliki peran yang sangat strategis dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan, sementara pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat sehingga kebutuhan pangan harus ikut ditingkatan dari waktu ke waktu.

“Saya harapkan agar dinas tanaman pangan dan peternakan, mulai petugas penyuluh lapangan dapat terus meningkatkan peran aktifnya memotivasi petani untuk dapat memanfaatkan produktivitas pertanian di Kabupaten Kolaka Timur,” ujarnya.

Andi Merya juga berterima kasih pada Bank Indonesia yang menginisiasi pelaksanaan program klaster ketahanan pangan di Kabupaten Koltim. Diharapkan juga dapat melahirkan kemajuan sektor pertanian di wilayah Koltim.

“Tentunya pemerintah daerah akan selalu siap membantu para petani maupun kelompok tani dalam mengembangkan pertaniannya, sehingga Kabupaten Kolaka Timur terus menjadi penyangga komoditas beras di Provinsi Sultra,” ucapnya.

Dijelaskannya, keberhasilan demplot padi sawah sistem digital farming tentunya didasari kerangka acuan kerja pengembangan demplot digital framing padi sawah terintegrasi peternakan sapi di Desa Mokupa dan Desa Mendoke di Kecamatan Lambandia, yang dilatarbelakangi oleh fakta yang yang pahit, yakni menunjukkan Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memilik kekayaan sumber daya alam yang cukup besar. Namun demikian, sebagian besar komoditas pangannya masih diimpor akibat kekurangan pasokan dari dalam negeri, seperti beras, bawang merah, bawang putih, cabai merah, dan jagung.

Olehnya itu melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, kata dia, menargetkan lima komoditas swasembada pangan utama, yaitu padi, jagung, kedelai, gula, dan daging. Selanjutnya pada 2015 hingga 2017, pemerintah pusat menggulirkan program Upaya Khusus (UPSUS) Swasembada Pangan Nasional yang meliputi, komoditas padi sawah, jagung, dan kedelai.

Selanjutnya pada akhir 2019 untuk mendorong percepatan pencapaian ketahanan pangan nasional, Kementerian RI menggulirkan program Komando Strategis Pembangunan Pertanian (Konstra Tani) sebagai pusat gerakan pembangunan pertanian nasional.

Ada juga kerja sama pengembangan program klaster pengendalian inflasi ketahanan pangan padi sawah terintegrasi peternakan sapi antara KPwBI Provinsi Sultra dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Koltim yang dimulai pada 17 November 2020 hingga 17 November 2023.

Tujuan kerja sama klaster tersebut untuk mendorong percepatan peningkatan produksi secara kuantitas dan kualitas melalui program intensifikasi dan ektensifiakasi lahan pertanian di lokasi program, khususnya di Desa Mokupa, Mandoke, dan Onemanu.

“Dalam pelaksanaannya, para pihak terkait akan melaksanakan program secara sinergi sesuai dengan tupoksi masing-masing, di mana KPwBI Sultra akan berperan aktif dalam pengembangan kelembagaan, inovasi teknologi, kewirausahaan, dan pengembangan agribisnis secara hulu hilir,” terang Andi Merya.

Ditambahkan Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Peternakan Koltim, Lasky Paemba, komoditas pangan padi sawah dengan daya dukung potensi pengembangan pertanian padi sawah cukup besar dan dapat menjadi salah satu lumbung beras di Provinsi Sultra.

Jika dicermati angka produktivitas lahan yang berada pada kisaran 5 hingga 6 ton per hektare, masih memungkinkan untuk ditingkatkan hingga di atas 7–8 ton/hektare. Oleh karena itu,

Jika dicermati angka produktivitas lahan yang berada pada kisaran 5 hingga 6 ton per hektare, masih memungkinkan untuk ditingkatkan hingga di atas 7–8 ton/hektare. Oleh karena itu, terkait pelaksanaan program ketahanan pangan nasional dan sejalan dengan peran KPwBI Provinsi Sultra dalam kerja sama klaster khususnya inovasi teknologi, pada tahap awal pelaksanaan program KPwBI Provinsi Sultra menginisiasi pengembangan demplot digitaisasi pertanian padi sawah terintegrasi peternakan sapi.

“Dalam pelaksanaan demplot, para pihak terkait berperan aktif sesuai dengan tupoksi masing-masing, yaitu KPwBI Provinsi Sultra berperan dalam pengadaan infrastruktur dan inovasi teknologi yang digunakan; Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Peternakan berperan selaku pendamping teknis budidaya demplot melelui penyediaan tenaga penyuluh; dan Koperasi LKMA Mokupa berperan sebagai lembaga pengelolah demplot,” jelasnya.

Kegiatan tersebut tidak lain untuk mendorong peningkatan pengetahuan dan keterampilan petani tentang intensifikasi budidaya padi sawah teritegrasi peternakan, sekaligus mendorong implementasi budidaya pertanian secara terukur, teritegrasi, dan ramah lingkungan serta mendorong peningkatan produksi secara kualitas dan kuantitas untuk meningkatkan daya saing pasar, menciptakan lahirnya petani ahli yang memiliki pengetahuan dan keterampilan pertanian melalui intorduksi teknologi digital ditunjang hasil kajian penelitian berbasis masyarakat, serta media belajar petani dalam mengintroduksi inovasi teknologi yang tepat dan efisien dalam mewujudkan intensifikasi budidaya padi sawah secara terukur, teritegrasi, dan ramah lingkungan.

Untuk diketahui, Kabupaten Koltim mempunyai luasan sawah eksisting 16.358 hektare (angka tetap 2021) yang terbesar di 12 kecamatan. Area tersebut juga menjadikan Koltim mampu memproduksi gabah kering 128.187 ton dengan produktivitas per hektare 46.36 Ku/Ha (data Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan, 2021).

Sebagai informasi, Digital farming dimaknai sebagai program agar petani dapat mengelola sektor pertanian dengan berbasis bantuan digital agroteknologi sejak dini. Dengan digital agroteknologi ini, petani dapat menggunakan berbagai teknologi dan aplikasi untuk meminimalkan risiko yang menyebabkan gagal panen.

Digital farming menggunakan bantuan alat sensor tanah dan udara bernama RiTx dan ponsel berbasis android. Peralatan RiTx yang berbentuk kotak persegi, akan ditempelkan di sebuah tiang besi dan selanjutnya ditanam (dipasang) di lokasi lahan pertanian yang dapat menjangkau minimal 10 hektare lahan. Sedangkan di ponsel, diunduh aplikasi RiTx Bertani untuk menerima informasi terkait lahan pertanian.

Dengan dukungan alat sensor tanah dan udara dan aplikasi RiTx Bertani, petani dapat memantau kondisi tanah dan udara secara realtime dari ponsel masing-masing meski pun si petani sedang berada di luar daerah. Setiap lima menit, RiTx Bertani akan memberikan informasi apa yang terjadi di lahan pertanian.

Terkait prediksi cuaca misalnya, RiTx Bertani akan memberi peringatan dini seperti curah hujan. Kalau curah hujan sedang tinggi, sebaiknya proses penanaman ditunda beberapa hari. Untuk pemupukan, RiTx mampu memberikan informasi kapan pemupukan akan dilakukan. Dari warna daun padi, sudah diketahui pemupukan perlu dilakukan atau tidak. Nah, RiTx akan memberi informasi ke petani.

(Hasrianty)

  • Bagikan