Mau Mudik ke Raha? Nyebrang Lewat Torobulu Terlayani Sampai Lebaran

  • Bagikan
Kendaraan yang dimuat Feri rute Pelabuhan Torobulu-Tampo, Sulawesi Tenggara. (Foto: Gugus Suryaman/GN)

GATENEWS – KONAWE SELATAN: Instruksi pemerintah pusat yang melarang mudik jelang hari raya Idul Fitri 2021, tidak digubris warga Sulawesi Tenggara. Hampir di semua rute, apalagi penyeberangan via kapal laut Kendari-Raha-Baubau. Syarat khusus (non mudik) pun tidak berlaku.

Bagi warga Kabupaten Muna, Buton, Baubau, dan sekitarnya, yang berdomisili di Kendari ataupun merantau ke luar daerah, mudik adalah tradisi wajib. Bagi orang Muna-Buton, hari lebaran adalah hari sakral berkumpul dengan keluarga. Momen burusi manu (potong ayam), bikin cucur, ikat lapa-lapa, dan tentu saja silaturahmi. Maka hampa rasanya bila tak mudik.

Banner

Akibatnya, tiap tahun penyeberangan laut rute Kendari-Raha-Baubau padat pemudik. Pandemi Covid-19 yang merebak sejak 2020 lalu, tak juga berpengaruh. Sudah dua kali lebaran covid (masa pandemi), tetap saja padat pemudik. Baik rute kapal cepat, kapal malam, maupun Feri.

Di Pelabuhan Torobulu Kabupaten Konawe Selatan, yang merupakan penyeberangan Kapal Feri menuju Pelabuhan Tampo Kabupaten Muna, masih dipadati pemudik hingga H-2, Selasa (11 Mei 2021). Bahkan, trip kapal makin padat, dijadwalkan 24 jam bolak balik.

Supervisor Lintasan di ASDP Torobulu, Misbah, yang dimintai keterangan Selasa (11/5/2021) malam, menjelaskan, penumpang Feri makin padat. Baik penumpang jalan kaki, pengguna roda dua, maupun roda empat.

Saat dikeluarkan instruksi larangan mudik, antrian kendaraan yang akan menyeberang sangat padat. Menumpuk di pelabuhan. Pembatasan diberlakukan. Syarat ‘non mudik’ ditekankan. Masyarakat mengamuk. Akibatnya, ASDP Torobulu didemo warga dan mahasiswa.

Akhirnya jalur Feri dilonggarkan. Sejak tanggal 6 Mei, tiga kapal beroperasi bolak balik Torobulu-Tampo. Enam trip dari Torobulu, begitu pun sebaliknya dari Tampo. KMP Cenderawasih, KMP Pulau Rubiah, dan KMP Nuku silih berganti mengangkut penumpang. Bahkan di H-2 sampai H-1, direncanakan sebelas trip yang berjalan 24 jam.

“ASDP menyesuaikan kendaraan yang ada, kita muat 15 mobil dan sekitar 80 sampai 100 motor sekali jalan. Perkiraan sampai hari H kita melayani 1×24 jam,” terang Misbah.

Khusus hari Idul Fitri, penumpang akan dilayani usai salat Id. Jumlah tripnya juga menyesuaikan dengan antrian kendaraan.

Mengenai protokol kesehatan, pihak ASDP dan Dishub di Torobulu mengaku tetap menginstruksikannya pada penumpang. Namun soal pengaturan jarak, pihak ASDP tidak mau berkomentar banyak.

“Kalau atur jarak, maksimal kita hanya bisa muat 30 orang. Terus sampai kapan kita mau muat orang yang banyak ini. Masyarakat juga susah diatur,” ujar Misbah.

Nah, bagi pemudik yang mau lewat Pelabuhan Torobulu, siap siap saja mengantri. Sebab kendaraan masih saja bersusun untuk menunggu giliran diberangkatkan.

Tarif tiket kapal dan retribusinya, bagi pemotor sekira Rp80 ribu untuk satu kendaraan dan satu penumpang. Sedangkan yang menggunakan roda empat berkisar Rp450 ribu. Sedangkan untuk penumpang saja, Rp35 ribu per orang.

Editor: Gugus Suryaman

  • Bagikan