Lockdown Dalam Perang Melawan Covid-19 Menjadi Momok Menakutkan dan Dunia Kini Berpikir Kembali?

  • Bagikan

Oleh : Yanti sutiani

Mahasiswa : Pasca
Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo (UHO)

Ads

World Health Organization (WHO) pada tanggal 30 januari 2020
menetapakan Covid-19 sebagai darurat kesehatan masyarakat dan menghimbau kepada
seluruhh Negara untuk mempersiapkan diri “strategi” yang baik mana kala
Covid-19 masuk ke Negara lainyaterutama bagi Negara-Negara dengan sistem kesehatan
yang masih rendah jauh dari China. Kini kenyataan terjadi wabah berubaha status
menjadi pandemi dan masuk hampir keseleuruh belahan dunia dan jumlah kasus
terus bertambah di laoprkan di negara-negara lain

Keseriusan
China dalam menyelesaikan Covid-19 dilakukan dengan mengunci populasi  Wuhan dan seluruh provinsi Hubei pada bulan
Januari 2020, Pengawasan yang sangat secara ekstrim didukung dengan intervensi
militer, Penguncian pupulasi dikenal dengan istilah Lockdown, dimana logistik
di suplay oleh pemerintah dengan sistem pengawasan yang sangat ketat. Namun
Kebijakan Lockdown ini tidak mampu menekan jumlah kasus yang terkonfirmasi selama
wabah terjadi di wilayah itu.Hingga pada akhirnyaChina bisa disebut berhasil dalam
melawan wabah covid-19 pasalanya jumlah kasus sejak 17 februari menjadi menurun
hingga maret 2020. Keberhasiloan ini tidak terlepas dari kepatuhan
masyarakatnya yang tinggi terhadap instruksi Pemerintah dan kekuasaan absolut
oleh Kepala Negara RRT. Masyarakat mengkarantina diri di rumah, mempraktekkan
social distancing atau jarak sosial yaitu dengan membatalkan acara, pertemuan,
penutupan tempat umum, sekolah dan Universitas. Bahkan pemerintah China meluncurkan
kartu izin bagi setiap warganya
dan hanya diberikan izin
maksimal 30 menit untuk menninggalkan rumah mereka setiap harinya, RS Khusus Covid-19
dibangun dalam waktu yang sangat-sangat singkat.

Dilansir
dari laman WHO situasi  penyebaran
penyakit Covid-19 data per tanggal 22 maret 2020 sudah 184 Negara yang berdampak
kasus Covid-19,  267.013 kasus
terkonfirmasi dan 11.201 yang meninggal dunia akibat Covid-19.

Pada
bulan januari otoritas China Melarang  sekitar 60 juta orang meninggalkan rumah
akibat pembatasan perjalanan terkaiat penyebaran wabah Covid-19. Namun apakah
kebijakan lockdown ini dapat efektif di Negara lain ?. Italia adalah Negara
kedua yang terbanyak kasus covid-19 bahkan yang meningal dunia terbanyak
setelah China dimana kasus itu pertama ditemukan.Bukti bahwa lockdown tidak
efektif di Italia adalah bahwa Negara itu 
berbeda dengan China baik dari segi struktur sosial, budaya maupun hukum
yang berlaku di Negara tersebut. Mereka mengamati di media-media bagaimana
kehidupan di China khususnya wilayah yang telah dilockdown tersebut,
kebinggungan muncul dalam benak mereka bagaimna mereka dapat bertahan hidup
dalam kodisi seperti itu Pemerintah sangat agresif sementara penularan terus
menyebar di wilayah mereka, hidup menjadi tidak pasti,apakah hidup atau mati ?.
sebahagian orang menolak dibandingkan dengan China, China dan Italia jelas
berbeda dalam konteks sosial mauapun secara yuridis.

Di
Italia aturan segala  keterbatasan hak
seperti di China sulit diterima oleh masyarakatnya baik secara hukum maupun
sosial khusunya batasan kebebasan bergerak yang merupakan satu-satunya solusi
efektif melawan epidemi, dan secara tiba-tiba Italia sendiri baru menyadari
bahawa penyebaran Covid-19 ini telah terjai di seluruh wilayah negara tersebut.
Pasalnya setelah ada pasien dewasa muncul 2 kali di Ruang Gawat Darurat Rumah
Sakit di Godongo, sebuah kota kecil dekat Lodi. Pertama  dengan gejala flu, Kedua demam tinggi dan
krisis pernafasan. Kedua pasien tersebut ditangani oleh dokter dan staf lainya
di ruang gawat darurat dengan tidak memakai Alat
pelindung Diri
(APD) dari infeksi dengan demikian mereka juga menolak
menjadi agennya. Kemudian kasus pertama dikonfirmasi akibat kontak sosial
sehingga otoritas lokal kesehatan masayarakat diwilayah tersebut mengumumkan
telah terjadi wabah di Codongo dan sekitarnya tanpa dapat menemukan “pasien 0” yang
akan menjadi kunci dalam pengendalian wabah tersebut seperti di China, sehingga
disimpulkanya  bahwa wabah sudah menyebar
keseluruh wilayah Negara tersebut,Hanya dalam waktu yang sangat singkat
sistuasi menajdi sulit tak terkendalikan penyebaran kasus melonjak tinggi terjadi
di seluruh wilayah, terpaksa seluruh Negara Italia di lockdown, Rumah sakit kelebihan
beban tidak dapat menapung pasien Covid-19 yang sangat banyak. Dari sisi
politik para politisi tidak solid terjadi perbedaan terkait administrasi antara
otoritas kesehatan dan pemerintah nasional sehingga menimbulkan ketegangan
dalam manajemen darurat epidemiologi tersebut.

Pengumuman
yang terlalau dini dan tergesa-gesa tanpa mempertimbangkan efeknya perdana
menteri menandatangani dan mengumumkan ‘ketentuan
tambahan untuk memberlakukan keputusan hukum 23 Februari 2020 berisi
langkah-langkah mendesak untuk penahanan dan pengelolaan Covid-19 darurat
epidemilogi”
menyebabkan ribuan orang panik sehingga masyarakat melarikan
diri dari Milan menuju Italia selatan akibat perilaku ini menyebabkan penularan
yang masif. Hal ini berlawanan dengan tujuan tindakan akan mendeklarasikan
Lambordy dan 14 provinsi lainya di Utara sebagai “zona merah” Covid-19
selaian itu diperburuk dengan kondisi kurang solidnya partai politik dalam
mendukung pemerintah setalah krisis politik di musim panas 2019. Lebih jauh
media turut andil menyebar luaskan berita tersebut

Kebijakan
lockdown ini bukan tampa dampak negatif terhadap ekonomi pasalnya penerbangan
internasional menjadi terganggu dari dan ke luar masuk negara yang berdampak
Covid-19,bahkan secara global.  Bagi
Negara-Negara kaya dengan dengan ekomi yang sangat kuat seperti China  tidak akan berarti apa-apa namun  berdampak buruk bagi Negara-Negara berkembang
atau Negara –Negara Miskin lainya dibahawah China . Sehingga hanya akan menambah
deretan panjang persoalan kemiskinan, PHK masal terjadi dimana-mana,
kriminalisasi akan meningkat akibat kelaparan dan pada akhirnya mengancam
kesehatan masyarakat itu sendiri.

  • Bagikan